Studi Lapangan Teknik Konservasi Waduk 2017

“No Water, no life. No blue, no green” – Sylvia Earle

Singkat, padat, jelas, dan sebuah fakta jika tiada air maka tiada kehidupan serta tiada biru maka tiada hijau. Rabu, 1 November 2017 telah dilaksanakan Studi Lapangan mata kuliah Teknik Konservasi Waduk bersama dengan angkatan 2014. Berbeda dengan tahun sebelumnya yang berada di lokasi Arboretum dan Bendungan Sengguruh, kali ini lokasi yang dituju adalah Arboretum, Sabo Dam, dan Bendungan Selorejo. Karena terdapat penataan yang dilakukan di Arboretum oleh PJT 1, sehingga lokasi tersebut tidak dikunjungi.

Peserta berkumpul dari pukul 05.30 hingga 07.30 WIB, lalu dilakukan sambutan oleh Gallardio Taniago Tutuarima selaku Ketua Pelaksana, dilanjutkan oleh Muhammad Iqbal selaku Ketua HMP, dan yang terakhir oleh dosen pendamping yaitu bapak Dr. Ery Suhartanto, ST., MT, dan bapak Jadfan Sidqi Fidari, ST., MT.

Pukul 09.00 WIB peserta Studi Lapangan tiba di Sabo Dam yang berlokasi di Hulu Bendungan Selorejo. Materi diberikan oleh pihak PJT 1 yang menjelaskan mulai dari sejarah, fungsi, hingga permasalahan yang terjadi di Sabo Dam tersebut. Pada lokasi tersebut terlihat tampungan sedimen yang mulai penuh sehingga perlu dilakukan pemeliharaan berupa pengerukan sedimen guna memperpanjang umur Sabo Dam dalam menjalankan fungsinya. Hingga saat ini upaya yang dilakukan oleh pihak PJT 1 sudah mencapai 50 % yang mana masih terkendala dalam hal pembebasan lahan guna mobilisasi alat berat sebelum diadakan pengerukan Sedimen. Berbagai upaya akan terus dilanjutkan mengingat pentingnya bangunan Sabo Dam ini dalam menahan laju sedimen yang masuk ke Bendungan Selorejo.

Kegiatan selanjutnya menuju Bendungan Selorejo yang berjarak kurang lebih 3 km dari Sabo Dam, acara pertama yang dilakukan adalah peninjauan lapangan di lokasi Spoil Bank atau tempat pembuangan material sedimen hasil pengerukan yang dilakukan di Waduk Selorejo yang mana dapat terlihat pendangkalan waduk akibat besarnya volume sedimentasi yang terjadi. Sedimen ini berasal dari perubahan tata guna lahan di hulu Bendungan Selorejo yaitu proses pertanian dan penggundulan hutan yang diubah menjadi kawasan kebun. Hal ini menyebabkan laju erosi yang sangat tinggi dan merupakan masalah yang harus ditangani dengan tepat mengingat fungsi dari bendungan sebagai penyedia irigasi, air minum, PLTA, dan banyak lainnya. Dapat terlihat kawasan pegunungan di hulu Selorejo mengalami penggundulan yang sangat parah dimana terlihat sangat jelas bahwa hutan tak lagi hijau namun coklat. Dampak lain dari kondisi ini adalah banjir dan tanah longsor pada musim hujan dimana tanah tak dapat menampung air dan tidak mendapat perkuatan karena tidak adanya pohon, sedangkan pada musim kemarau akan terjadi kekeringan karena tanah tidak memiliki cadangan air. Dari seluruh permasalahan tersebut dapat diketahui bahwa sangat penting dilakukannya Konservasi Waduk yang juga secara tidak langsung mengonservasi lahan dan hutan di kawasan tersebut.

Setelah melakukan peninjauan lapangan di lokasi Spoil Bank, dilanjutkan Ishoma lalu materi di Gedung Mawar terkait konservasi yang dilakukan oleh PJT 1 oleh Bapak Afi selaku Quality Control, Bapak Haryono selaku Kepala Sub Divisi, dan Bapak Supriyono selaku TU Bendungan Selorejo. Materi yang singkat, padat, dan jelas ditimpali dengan sesi tanya jawab yang lama dimana antusias peserta sangat terlihat dalam memahami materi yang disampaikan. Kegiatan terakhir adalah sesi foto bersam di Spillway Bendungan Selorejo dimana peserta harus berjalan melalui puncak bendungan sehingga terlihat kapal keruk yang ada di waduk juga aktifitas nelayan yang mencari ikan. Sesi foto bersama dari peserta Studi Lapangan bersama dengan pihak PJT 1 menjadi kegiatan terakhir dari Studi Lapangan Teknik Konservasi Waduk tahun 2017. (yaf)

131 total views, 1 views today