Kajian Publik 2017 “Brantas RiverBanks Discussion”

Kajian Publik 2017

Semakin bertambahnya penduduk, pertumbuhan industri, pembangunan dan perkembangan di perkotaan tentu saja membuat kebutuhan akan lahan pemukiman semakin meningkat. Kurangnya arahan dan perhatian akan kebutuhan pemukiman masyarakat, sehingga banyak masyarakat yang membangun rumah di sepanjang daerah bantaran sungai. Perubahan jumlah penduduk dan aktivitas sosial ekonomi akan menyebabkan perkembangan aspek lainnya yang sebagian besar membutuhkan ruang sehingga akibatnya akan menimbulkan persaingan untuk mendapatkan ruang yang suplainya dari waktu ke waktu relatif tetap. Pernyataan di atas menunjukkan bahwa pertumbuhan penduduk mengakibatkan terjadinya permasalahan pada kawasan bantaran sungai.

Maka dengan melihat dan meneliti permasalahan tersebut kami merencanakan dan membuat wadah berupa diskusi dan kajian yang diharapkan didalamnya dapat membahas dan membedah secara rinci permasalahan yang ada, serta mendapatkan solusi-solusi yang relefan untuk dapat diterapkan kedepannya. Sehingga dengan tujuan tersebut kami mengadakan acara bertajuk Kajian Publik 2017 dengan tema Brantas Riverbanks Discussion. Target kami dalam kajian publik ini dapat menyatukan 4 elemen yaitu mahasiswa, akademika, pemerintah, dan organisasi masyarakat. Namun karena berbagai kondisi, sehingga terdapat beberapa elemen yang tidak dapat dihadirkan yaitu elemen pemerintah.

Adapun narasumber yang berkompeten dalam Kajian Publik yaitu, Bapak Dr. Runi Asmaranto ST. MT selaku narasumber I dan dosen teknik pengairan, Bapak Prigi Arisandi selaku narasumber II dan koordinator  teritorial Telapak wilayah Jawa Timur, dan Yahya Eko Maryanto selaku moderator dan merupakan mahasiswa teknik pengairan.

Dalam pemaparannya, Bapak Runi Asmaranto menjelaskan secara teoritis terkait pengertian das, bantaran sungai, permasalahan yang menghinggapi mengenai pemukiman di bantaran. Selain itu beliau juga menjelaskan mengenai undang-undang yang mengatur tentang penataan kota dan sumber daya air serta menganalisis kesepahaman terkait undang-undang tersebut dengan kondisi di lapangan.

Sementara itu, Bapak Prigi Arisandi dalam pemaparannya menjelaskan secara biologis terkait biota yang menempati sungai saat ini. Beliau memberikan gambaran bahwa banyak sekali makhluk hidup (biota) yang menempati das dan sungai-sungai baik untuk berkembang biak maupun bertempat tinggal. Selain itu beliau juga menerangkan bahwa penggunaan das sendiiri dapat dipandang secara sosial, ekonomi, maupun politik. Dimana sosial terkait pemanfaatan dan sarana masyarakat, ekonomi terkait keuntungan yang dihasilkan dalam pengelolaan das, dan politik sebagai upaya perlindungan das dalam undang-undang. Dan diakhir sesi, Bapak Runi Asmaranto juga menambahkan pendapat bahwa bila memang suatu kawasan menjadi lahan konservasi dan lindung, maka laksankanlah dengan semestinya, namun apabila tetap dilaksanakan pembangunan disekitarnya maka sikat saja.

Terakhir, kami berharap segala sesuatu yang telah dibahas serta hasil solusi yang didapatkan dari kajian tersebut, dapat kita terapkan dan laksanakan sebagai mana mestinya. Lalu selanjutnya tahap pengelolaan dan perlindungan terhadap sumber air, mari kita beraksi bersolusi untuk menjaga ekosistem bumi. (li)

 

 

7,684 total views, 1 views today